f
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan




    Saat itu, rasanya semua berjalan biasa-biasa saja dan tampak normal. Tak ada keraguan bahkan kecemasan yang menderu hati. Tak ada tanda tanya yang masuk tanpa permisi. Aku tak menyangka waktu yang kuhabiskan bersamamu berlalu begitu cepat. Apakah detik memang mampu berlalu secepat itu? Apakah tahun yang berganti, memang mampu berlari tanpa menunggu?. Ah, aku tahu jawabannya. Mungkin karena terbiasa, bersua denganmu di setiap kesempatan bukanlah hal istimewa. Itu sebabnya sadarku menjadi bias, aku kira semua berjalan sesuai dengan jalur indah yang ku harapkan.
    Oh ya, aku lupa bahwa kita sudah lama tak bertukar kabar. Aku lupa karena aku kira kita masih seperti biasa. Apakah hanya aku yang merasa bahwa kita tetap sama? Jika iya, aku akan pura-pura tak tahu. Kau tak perlu menjawabnya. Nanti aku yang malu. Karena bisa jadi, aku satu-satunya orang yang merindukanmu.
    Sekarang masih sore. Pukul lima. Di luar sedang hujan. Tiba-tiba aku ingat, ini bulan Desember. Waktu kau bilang bahwa sepertinya kita sudah tidak bisa bersama, ternyata sudah hampir dua bulan. Tuh kan, aku lupa lagi. Baru saja aku hendak membuka smartphoneku. Mau bilang, “Keluar yuk? Laper”. Di luar masih hujan, lidahku kelu memandang benda canggih berbentuk persegi panjang itu. Kenapa tak berdering? atau bergetar sekalipun ? sekali saja. Hh, jadi begini, hanya aku satu-satunya  yang masih menanti kabar.
    Aku bukannya menyesali dan berlaku bodoh dalam menyikapi hal ini. Hanya saja, ternyata sulit. Sulit untuk mengakui bahwa ada kenangan yang mendadak harus dihapus secara paksa. Mungkin tak masalah jika tetap tinggal, tapi lambat laun, hal itu semakin asing dan menyayat. Sulit untuk sekedar percaya, bahwa kau melakukan semua ini atas nama kebaikan. Kebaikan kita bersama kau bilang. Sulit untuk bersedia kalah dari seseorang yang awalnya tak ku kenal, yang awalnya tak pernah ku sapa, justru menjadi bagian penting dalam relungmu kali ini. Sempat aku egois, dan merasa bahwa tindakanmu ini seperti anak kecil yang masih plinplan. Tapi nyatanya, aku menyayangi anak kecil itu. Dan nyatanya memang sulit, merelakanmu pada seseorang yang telah menunggumu di trotoar malam itu. Parasnya manis, nampak cerdas dan berkelas. Sulit untuk mengakui bahwa ia lebih baik dariku. Dan sekali lagi, ternyata sulit, untuk berdamai dengan kehilangan...
   
         

Colour in My Life
           Bunyi derit pintu terbuka perlahan, daun pintunya sudah mulai berkarat dan badan kayunya pun mulai lelah untuk berdiri. Para rayap telah berhasil mengalahkan kekokohannya. Tak kalah kejam dari para rayap itu, para rumput liar pun dengan seenaknya memenuhi halaman dan tepi bangunan reot dengan daun pintu yang mulai berkarat tersebut.
          Terdapat dua jendela disebelah kanan dan kiri yang sedikit membuka, mengintip barangkali ada kawanan burung yang penasaran dan mengunjungi bilik-bilik tak terurus didalam bangunan itu. Sebuah rumah kayu dengan halaman yang tidak begitu luas dan dapat dipastikan sempat berjaya dengan kemegahan khas joglo serta ukiran kayu yang rumit di sekeliling bingkai jendelanya yang penuh arti seni.
          Di sekitar halaman terdapat ilalang-ilalang yang tumbuh menjulang berantakan diantara pot bunga yang hanya berisikan tanah kering. Terlihat sudah lama tak dirawat bahkan tidak dipedulikan sama sekali. Disela-sela pagar rumah yang tak terlalu tinggi dan semakin rapuh itu, terdapat sekumpulan tanaman yang memiliki wangi khas, yaitu Kemangi. Berumpun-rumpun tumbuh bagaikan semak belukar. Tingginya hampir menyamai pagar rumah yang sudah rapuh itu. Daun-daunnya dipenuhi lubang kecil disebabkan oleh ulat-ulat yang kelaparan.
          Perlahan, langkah kaki pemuda itu menjadi satu-satunya suara yang berada disekitar rumah kayu. Senyap, hening, hanya dia sendiri yang mulai menatap hampa bangunan reot yang berada dihadapannya sekarang. Matanya yang tajam seakan menyelidik dan penuh tanda tanya. Mengatakan bahwa dia harus segera menemukan apa yang seharusnya menjadi miliknya.
          Pemuda itu, tampaknya bukanlah orang biasa. Dari penampilannya yang necis dan modis dapat disimpulkan bahwa dia mempunyai pekerjaan bergaji tinggi. Apalagi jika dilihat dari jam tangannya yang tampak berkilau dengan tulisan Rolex yang bertengger manis ditangannya yang putih bersih. Nampaknya dia pemuda yang sangat memperhatikan penampilannya.
       Dia menengok ke kanan, dan juga kekiri dengan menahan napas. Memeriksa keadaan. Kalau-kalau ada orang yang mengetahui keberadaannya. Jangan sampai ada yang mengikutinya. Itu akan menjadi sangat buruk. Dia mengeluarkan sapu tangan abu-abu dari ranselnya yang tampak berat. Entah barang apa saja yang berada disana. Dengan sapu tangan itu, dia membuka daun pintu berkarat dan suara deritnya begitu keras terdengar. Mungkin karena sudah terlalu lama ditinggal oleh pemiliknya. Debu segera berhembus pelan ketika pemuda itu memasuki rumah, bercampur dengan udara yang terasa sesak ketika dihirup.
          Pemuda itu mengamati sekeliling, kursi-kursi berdebu dan juga beberapa pigura yang masih setia menggantung di dinding bilik yang menyerupai ruang tamu itu sudah mulai memudar. Foto yang terpajang disana mulai tampak buram. Hanya ada warna hitam dan putih. Foto-foto yang mirip seperti gadis kecil dengan rambut dikepang dua dengan pita yang panjang. Tersenyum riang bersama  saudara laki-lakinya.
          Ada sesuatu yang membuat dada pemuda itu semakin sesak memandang foto gadis itu. ”Maaf sudah membuatmu lama menunggu…” ucapnya lirih sambil mengelap kaca pigura itu dengan sapu tangannya. Fotonya terlihat sedikit lebih jelas, tentu saja senyum gadis difoto itupun semakin mengembang.
          Rumah kayu ini hanya terdiri dari ruang tamu,dapur,dan dua bilik kamar kecil. Pemuda itu lantas memasuki salah satu bilik didekat ruang tamu, dipintunya terdapat tulisan “ADAM & FREYA”. Kenangan pemuda itu mengajaknya mengarungi waktu masa lampau. Sekitar 15 tahun yang lalu, tulisan Adam & Freya itu masih tergantung sama persis di pintu kamar kecil ini. Sebuah kamar sederhana yang menjadi tempat favorit mereka berdua. Menghabiskan waktu seharian ketika libur sekolah, belajar, bermain, bercanda, berimajinasi. Tidak banyak yang dapat mereka lakukan diluar rumah, para tetangga mereka bermukim lumayan jauh dari tempat mereka tinggal. Otomatis teman-teman sekolah mereka juga jarang bermain di lingkungan rumah kayu itu.
         Momen-momen indah berkelebat saling berdesakan dalam benak pemuda itu.” Dimana krayon baruku? Jangan-jangan kakak menghilangkannya lagi!” tuduh Freya suatu sore ketika akan menggambar. Menggambar adalah hobi barunya waktu itu. Dan krayon itulah belahan jiwanya. Freya akan ngambeg seharian jika krayon kesayangannya ternyata hilang. “Mungkin kamu lupa naruhnya dimana?” kata Adam sambil memainkan mobil-mobilan di lantai. “Masak sih? Nggak mungkin aku lupa. Aku akan bilang ayah ah. Mau minta di belikan lagi.” Ujar Freya berbinar. “ Dicari dulu laah, jangan langsung minta yang baru. Kasihan kan ayah.” Kata Adam berhenti memainkan mobilnya dan menatap wajah adiknya yang bulat. “ Tapi kan sudah hilang, aku akan bilang ayah!” teriak Freya sambil berlari keluar kamar. Adam hanya menghembuskan napasnya,” Dasar keras kepala”.
       Beberapa menit kemudian Freya menghambur masuk kamar dengan terengah-engah. Matanya berkaca-kaca. “Tuh kan? Apa aku bilang. Ayah tidak akan mau membelikanmu krayon baru!.” Ucap Adam menyeringai. Freya tidak peduli, dia mendekati wajah kakaknya sambil menangis tanpa suara.”Sstt! ayah dan ibu bertengkar.” Ucapnya lirih, bahkan nyaris tak terdengar. Adam tampak bingung dan mengernyitkan dahi. “Aku bahkan belum sempat bilang ingin krayon baru. Mereka bertengkar, aku takut... ayah dan ibu seperti monster.” Tambahnya pelan.
        Adam mengetahui apa yang sedang terjadi, belakangan ini memang ia sering mendapati ayah dan ibunya kurang akur. Entah karena sebab apa. Namun, dia baru menyadari bahwa situasi semakin memburuk. Dan ini tidak baik bagi dia dan adiknya.” Freya...jangan menangis. Nanti ayah dan ibu dengar, kamu bisa dimarahi. Semua akan baik-baik saja. Mereka hanya berdiskusi mengenai suatu hal. Mungkin tentang sekolah kita. Tidak usah takut.” Bujuk Adam sambil memeluk adiknya. “Ayah akan pergi, ibu juga. Aku mendengar mereka tadi. Apa yang harus kita lakukan. Apa kita harus berkemas juga? Bagaimana dengan krayonku yang hilang? Ada kertas kecil disana. Berisi daftar nama tempat yang akan aku kunjungi setelah besar nanti. Aku tidak ingat namanya. Aku harus menemukannya. Bisakah kita membeli krayon baru di perjalanan nanti?” adiknya terus mengoceh tanpa mengetahui keadaan sebenarnya. Yang dia tahu, dia sedih karena krayonnya hilang dan takut melihat ayah dan ibu berteriak- teriak karena bertengkar. “ Iyaa, kita akan membeli lagi nanti, Fre” hibur Adam. “Sekarang diamlah”.
         Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan satu bantingan keras. Ayah masuk terburu-buru dengan sebuah ransel besar dan menarik tubuh mungil Freya dengan kasar. “ Ayo Freya! Cepat! Kita akan jalan-jalan.” Teriak ayah tanpa menjelaskan apapun. “ Kakak!” panggil Freya sambil menangis.” “Kita pergi berdua. Kakak akan menyusul dengan ibu.” Bayangan mereka seketika menghilang di belokan pintu kamar. Adam terpekur dan tak bisa berkata apapun. Apa yang baru saja dilihatnya? mereka semua pasti sudah gila.
          Tangisan ibu yang tersedu-sedu menyadarkan Adam yang masih bengong dengan kejadian barusan. Dia segera berlari menemui ibunya yang bersandar di dekat almari. Tergolek lemah dengan mata sembab,” Ibu? Ada apa? Apa yang terjadi? Kemana ayah akan pergi? Kenapa Freya juga diajak?” pertanyaan beruntun itu pasti sangat menyayat hati ibunya. Bagaimana ibunya bisa menjelaskan semua ini tanpa menyakiti perasaan anak-anaknya.” Adam…” ucapnya pelan sambil mengelus kepala anak laki-lakinya itu. Adam menunggu penjelasan ibunya. “ Mulai saat ini, Adam akan tinggal dengan ibu disini. Ayah dan ibu harus menyelesaikan urusan masing-masing. Nanti kita akan berkumpul lagi, jangan khawatir. Ayah dan Freya akan baik-baik saja. Mereka akan mengunjungi kita disini.” Jelas ibu sambil tersenyum
         “Tapi kenapa mereka terburu-buru? Apa yang harus diselesaikan ? kemana mereka akan tinggal? Diluar dingin. Bahkan ayah belum sempat mengambil jaket tadi.” Kata Adam lagi. Ibu memeluk Adam kecil sambil mengelus kepalanya. Dadanya juga terasa sesak untuk menjawab pertanyaan putra kecilnya yang kebingungan. “Maafkan ayah dan ibu Adam. Jangan khawatir, ayah dan Freya akan baik-baik saja...”
          Adam tahu ada suatu hal yang tidak boleh ditanyakannya saat ini. Dia menahan diri untuk bertanya walaupun dalam hati ia sangat sedih dan bingung. Adam memeluk ibunya sambil menangis tanpa suara. Dia akan sangat merindukan ayah dan adiknya. Entah kapan dia  bisa berkumpul dengan mereka seperti dulu lagi...
        Pemuda itu mengusap air matanya yang menetes pelan. Dia masih menatap pintu kamar bertulisakan namanya dan adiknya. Seminggu setelah kejadian itu, dia dan ibunya juga pergi meninggalkan rumah ini dan memulai hidup baru di Solo. Sementara ayah dan dan adiknya tidak memberi kabar sama sekali. Adam tahu, apa yang dikatakan ibunya dulu hanya untuk membujuknya agar tidak sedih. Adam tahu bahwa Freya dan ayahnya tak akan pernah kembali lagi. Dulu Adam memberontak dan merasa marah pada mereka. Termasuk ibunya. Namun kini, dia menyadari bahwa persoalan rumah tangga mereka tidak terjadi tanpa sebab. Adam tidak peduli apa dan bagaimana awal mula sebab perceraian orang tua mereka. Yang jelas, kini 15 tahun sudah berlalu tanpa mereka. Dan itu membuatnya tertekan.
         Ada sesuatu yang masih mengganjal dihatinya. Dia ingin bertemu dengan ayah dan adiknya. Sudah lama dia menahan perasaan ingin kabur dan menyusul mereka. Tapi kemana? Dia bahkan tidak mempunyai petunjuk apapun. Ibu hanya bilang bahwa mereka pasti baik-baik saja. Adam mengusap foto dalam pigura kusam itu lagi, “ Maaf kakak tidak bisa menjemputmu. Apa kamu baik-baik saja sekarang? Pasti kamu sudah menjadi perempuan dewasa yang cerdas dan manis. Apa kamu sudah melanjutkan kuliah? Kamu tinggal dimana? Apa kamu masih hobi menggambar?...” Adam tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Air matanya terus menetes demi membayangkan betapa adiknya sekarang sudah tumbuh cerdas dan dewasa. Betapa rindunya dia pada Freya yang dulu selalu menghabiskan waktu bersamanya. Kekhawatirannya pada Freya begitu besar. Dimana dia? Apa dia sehat? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kabar ayahnya? Ada banyak pertanyaan yang masih terpendam dalam otaknya yang kecil dan putus asa. Ada banyak penjelasan dan cerita yang ia tahan untuk tidak pernah lagi menyinggung dan mengingat hal pedih ini dalam hidupnya. Namun, siapa yang kuasa memisahkan talinan darah diantara mereka? Semudah itukah membuang seseorang yang menjadi bagian dalam dirinya, bagian dari hidupnya?.
          Siang ini, Adam kembali ke rumah masa kecilnya. Rumah yang hampir 10 tahun lebih ditinggalkan oleh penghuninya. Ada sesuatu yang harus dia temukan ditempat ini sebelum dia mulai mencoba mencari adiknya. Adam tidak tahu apakah barang yang ia cari masih berada disini ataukah sudah hilang tak tahu rimbanya. Ia menggeledah seluruh laci yang mulai berlubang-lubang. Membuka almari pakaiannya dan Freya dulu. Membuka kotak mainan yang berisi mobil-mobilan dan berbagai boneka binatang milik adiknya.
        Pikirannya kembali melayang-layang, kebersamaannya dengan Fteya berkelebat cepat dan silih berganti. Suara manja adiknya, suaranya saat menangis, berteriak, memaksa dan bahkan tertawa gembira. Air matanya kembali menetes,” Bagaimana dengan krayonku yang hilang? Ada kertas kecil disana. Berisi daftar nama tempat yang akan aku kunjungi setelah besar nanti. Aku tidak ingat namanya. Aku harus menemukannya. Bisakah kita membeli krayon baru di perjalanan nanti? “ Suara adiknya terus mendengung dan berulang-ulang.
        Dimana krayon itu? Dimana satu set krayon yang hilang dulu? Apa mungkin masih disini? Semoga masih disini. Adam menebak-nebak dalam hati dengan gusar. Krayon itu satu-satunya petunjuk yang harus dia temukan untuk bisa mencari adiknya. Mengingat ayah dan Freya tidak meninggalkan apapun sebagai petunjuk dimana mereka tinggal, entah nomor telepon atau alamat.
           Freya bilang dia ingin mengunjungi beberapa tempat ketika dia sudah besar nanti. Mungkin terdengar hanya gurauan anak kecil biasa. Imajinasi gadis polos yang asal bicara. Namun hal itu akan menjadi sangat berharga bagi Adam sekarang. Itu satu-satunya harapan baginya untuk bisa bertemu lagi dengan Freya. Tidak ada salahnya mencoba. Dan ada 1000 kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tunggu kakak Freya, tunggu kakak. Adam terus menggeledah bilik kecil itu. Peluhnya mulai membasahi kening dan dagunya. Nafasnya memburu, suara dalam hatinya selalu berdoa dan mengucap kalimat,” Tunggu kakak Freya, tunggu kakak.”
          Adam meraba sesuatu yang berdebu di bawah kolong dipannya yang juga mulai berlubang karena para rayap. Dia menggapai sesuatu yang tampak berbentuk persegi itu keluar dari kolong kamar tidur. Dia meniup kumpulan debu yang menutupi benda kotak itu. Dan matanya langsung berbinar! Satu set krayon yang kemasannya sudah rusak serta krayon yang mulai mengikis berantakan. Mungkin para tikus nakal sudah menjadikannya santapan makan malam selama 10 tahun lebih ini. Namun bukan itu yang terpenting. Yang terpenting ialah catatan kertas kecil yang terselip disana. Masih bisa terbaca meskipun ujung-ujungnya juga sudah terdapat gigitan hewan pengerat yang menghuni rumah ini dengan bebas.
          Catatan kecil itu, terlihat sangat kusam dan lusuh. Coretan huruf ceker ayam adiknya terlihat sangat asli. Adam berdiri dan membaca tulisan itu, Freya menuliskan 3 tempat yang sangat ingin ia kunjungi ketika sudah dewasa. Yang pertama, dia ingin pergi ke Aceh, kota serambi Mekkah yang terkenal. Dia ingin jalan-jalan kesana suatu saat nanti. Tempat kedua, ia ingin mengunjungi salah satu museum di kota Jakarta. Ketertarikannya pada seni dan benda bersejarah membuatnya ingin pergi kesana. Dan yang ketiga, dia ingin pergi ke kebun binatang untuk mengambar banyak binatang dan dijual pada para pengoleksi barang antik. Dia pikir gambar binatang yang beragam merupakan hal yang sangat unik dan disukai banyak orang. Benar-benar pemikiran anak kecil yang hanya asal bicara diusia 8 tahun. Dan merypakan tempat-tempat biasa yang diidamkan anak seumurannya. Tapi Adam sedikit berbinar dan tersenyum penuh arti.
          Meskipun dia tahu, sangat kecil kemungkinan dia bisa menemukan Freya ditempat-tempat seperti itu. Bahkan mungkin Freya sendiri sudah lupa dengan tempat yang ditulisnya sewaktu kecil. Bisa saja sekarang impiannya sudah berubah, dia ingin mengunjungi tempat-tempat yang lebih hebat dan menantang Namun Adam masih berharap. Dia tidak akan menyerah dan putus asa. Biar bagaimanapun, dia akan mengunjungi tempat-tampat ini. Tidak peduli berapa kali dia gagal dan berapa banyak tempat-tempat yang akan dia datangi.
       Adam menutup kembali pintu berderit yang sudah rapuh itu. Angin berhembus pelan dibawah terik mentari yang menyengat kulitnya. Ilalang-ilalang itu masih menunggu kepergiannya sambil melambai-lambai. Begitu juga rumput liar dengan diam menyaksikan langkahnya menuju jalan setapak yang akan membawanya ke pusat kota. Masih senyap, hening. Bayangan-bayangan masa kecilnya bersama Freya kembali berlarian dalam otaknya. Adam bergegas dan memantapkan langkah kakinya. Dia tidak akan membuang-bunag waktu mulai detik ini. Biarpun sejauh apapun, sebanyak apapun kota yang akan dia datangi, dia tetap yakin dia akan segera bertemu dengan Freya.” Tunggu kakak Freya, tunggu kakak!”.

         
Ibu, Bidadari yang Terlihat
Sudah lama aku tidak pernah melihat sesosok wanita paruhbaya itu lagi. Tidak pernah melihat sanggul kecilnya yang ikut membungkuk tatkala sedang menyapu halaman rumahnya yang selalu tampak bersih itu. Iya, karena hampir setiap sore atau bahkan pagi, ia selalu menyapunya menggunakan sapu lidi yang sudah tak panjang lagi.
Sudah lama juga aku tidak pernah mendengar sapaan,” Mpun berangkat cah ayu?.” Meluncur dari mulutnya yang pucat dan jarang terpoles gincu. Ia, imigran dari Jawa Timur yang datang ke kota ini bersama anak dan suaminya, beberapa tahun yang lalu. Berharap bisa merubah setitik atau dua titik laju ekonomi keluarga,dan mengambil peruntungan nasib di tanah sunda ini.
Aku memanggilnya Mak Nah, wanita tua yang lembut dan sederhana. Awalnya aku sama sekali tidak mengerti setiap sapaan yang dilontarkannya. Tapi lambat laun, ia menjelaskan sedikit demi sedikit bahasa daerahnya. Rumahku terletak kurang lebih 100 meter dari rumah Mak Nah. Setiap berangkat kerja, aku selalu menegurnya. Tentu saja saat ia sedang menyapu halaman rumah ditemani anak semata wayangnya, Rahmad.
Rahmad lebih kurus dan berantakan dibanding  teman-teman sebayanya. Dan diusianya yang sudah 7 th ini, Mak Nah belum bisa mendaftarkannya sekolah karena keterbatasan biaya. Namun aku dapat melihat binaran mata pemuda kecil itu. Ada mimpi dan ketabahan yang luar biasa.
Kadang, aku merasa iba dengan keadaan mereka. Suami Mak Nah yang hanya sebagai tukang becak, tentu sangat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup yang meradang. Padahal dizaman sekarang ini,becak sangat jarang diminati. Keberadaan mereka disingkirkan oleh kendaraan lain yang dirasa lebih cepat dan efektif.
Dengan penghasilan yang tidak menentu, keluarga Mak Nah jarang bisa makan 3x sehari. Dan tak jarang pula, aku memberikan beberapa pecahan rupiah untuk sekedar uang jajan Rahmad. “Matur suwun sanget cah ayu…” selalu perkataan itu yang muncul tiap kali aku memberikan sesuatu padanya.
Ditengah kemelut hidupnya yang keras, Mak Nah tetap tabah dan menunjukkan kegembiraan di mata orang-orang. Ketegaran hidupnya patut diacungi jempol. Pernah suatu ketika, Mak Nah bekerja sebagai Pembantu di rumah Bu Hasim, seorang guru yang sebentar lagi pensiun. Namun setelah beberapa bulan bekerja, Bu Hasim meninggal dunia dan Mak Nah kembali menganggur.
Lambat laun, pertengkaran mak Nah dan suaminya mulai menjadi bahan gosip warga sekitar. Aku pun pernah tidak sengaja memergoki mereka beradu mulut dan bertengkar. Aku menduga itu semua karena faktor ekonomi.
Dan sejak itupun, aku jarang melihat Mak Nah menyapu halaman. Hanya Rahmad yang nampak tengah asyik bermain kelereng..” Rahmad, emak teh kemana?.” Tanyaku. “ Emak sakit mbak, pusing.” Jawabnya polos. Dan ketika aku menjenguknya, lagi-lgi Mak Nah selalu menampakkan wajah yang riang. Ia sama sekali tidak ingin orang lain ikut sedih dan mengasihini hidupnya.
Hari-hari berlalu dan suami Mak Nah semakin jarang pulang. Mak Nah juga tidak muncul sama sekali. Kabarnya, mereka akan pulang kampung ke Jawa Timur. Sore itu, aku menyapa Rahmad yang sedang duduk diteras rumah. Pakaiannya tampak lebih bagus dari biasanya. Dia juga memakai sepatu Donald yang jika ia berjalan, bunyinya menyerupai ” ciiitt…cittt…cittt”.
“Waah, mau jalan-jalan kemana atuh? Mana kasep pisan.” Sapaku ramah. “mau pulang mbak.” Jawabnya sambil tersenyum, memperlihatkan barisan giginya yang gigis.” Lah, kenapa? Ngga mau ketemu mbak lagi ya?” godaku. Dia hanya tersenyum lagi.
Tidak lama setelah itu,Mak Nah tampak sedang sibuk membereskan  pakaian mereka. Barangkali memang benar kabar yang beredar. ”Rahmad, mbak boleh tanya?.” Rahmad mengangguk lucu. ” Bapak dimana,?”. Tanyaku pelan. “Bapak minggat, juuauuuuhhh….”. katanya polos. Akhirnya Mak Nah keluar, ”Ssstt…” bisiknya pada Rahmad.Mak Nah bilang bahwa ia akan kembali ke Jawa Timur. Tidak seperti biasanya, setelah berpamitan Mak Nah tidak mengucap sepatah katapun. Mimik wajahnya Nampak pucat dan menyimpan kesedihan.
Dengan perasaan yang campur aduk, aku memandang kepergian mereka yang mulai menghilang diujung jalan. Ada banyak pelajaran hidup yang berharga yang aku dapatkan dari sosok perempuan sederhana yang lugu dan apa adanya. Perempuan yang selalu tabah dan mampu menyembunyikan kegetiran hidup hanya untuk membuat orang lain agar tidak merasakan hal yang sama.
Mak Sinah, sosok perempuan hebat yang akan selalu aku kenang. Dalam hatiku pun, aku masih mengharapkan dapat bersua dengannya lain waktu. Meskipun ia bukan anggota keluarga maupun kerabatku, aku menyimpan keinginan untuk menjadi bagian darinya.
                                                                           ***
   
Saya Takut Jatuh Cinta
   
   Cerita ini, tentang seseorang. Seseorang yang awalnya tidak berpengaruh sama sekali di dalam kehidupanku. Seseorang yang sama sekali tidak ku duga,dapat membuatku tampak bodoh. Dan seseorang ini,telah berhasil mengendalikan hidupku. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tertarik. Namun aku tidak dapat menjelaskannya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku semakin sulit melupakannya. Seseorang ini bernama Angga. Mahasiswa semester akhir fakultas ekonomi. Memang kedengarannya tidak ada yang istimewa. Namun ada sisi lain darinya yang membuatku nyaman. Angga pemuda yang dewasa, sopan, memiliki pandangan realistis, lembut danpekerja keras. Angga sosok laki-laki yang di dambakan semua perempuan. Sosok pemuda yang mungkin dapat memimpin keluarga dengan baik.
    Awal pertemuanku dengannya ialah, ketika ia tiba-tiba datang ke rumah. Tapi saat itu, ia adalah seorang pegawai restoran cepat saji. Kebetulan sepupuku, Dion memesan beberapa makanan di restoran tempat dia bekerja. Tidak ada perasaan apapun ketika pertemuan pertama itu. Kesan pertamaku padanya, ia hanya pemuda biasa yang ramah dan sopan.Belakangan, aku baru mengetahui bahwa ia adalah teman kampus Dion. "Namanya Angga. Anaknya baik kok,ga pernah neko-neko." Ujar Dion. "Oh ya? Hebat juga ya,uda kerja sambil kuliah..." balasku ringan. "Biasa aja kali Bil." balas Dion nggak ambil pusing.
    Namun itu, Angga 3 tahun yang lalu. Siapa yang menyangka, seorang pegawai restoran cepat saji itu, kini sudah mendirikan restoran sendiri. Dan aku, 3 tahun yang lalu juga hanyalah seorang gadis kelas 11 SMA yang masih manja dan minta ini itu. Iya. Namaku Bila, banyak orang menganggapku aneh. Aku gadis yang pendiam dan tidak punya banyak teman. Aku sering gugup ketika berhadapan dengan orang lain, apalagi jika aku membuat sebuah kesalahan. Entah itu kecil atau besar.
    Saat ini, aku masih mengejar impianku menjadi seorang jurnalis. Memang tidak mudah, namun aku harus tetap berusaha. Dan kalian tahu ? inilah pertemuan keduaku dengan seseorang yang awalnya sangat tidak berpengaruh itu. Berawal dari ketidak sengajaan yang mampu memunculkan kenangan lamaku dengan seorang pegawai restoran 3 tahun yang lalu. Well,sepertinya kuliah jurusan komunikasi memang jalan dari semua itu...
                                                      ***
    Akhir minggu ini,aku mendapat sebuah tugas lapangan dari kampus. Aku harus membuat agenda wawancara dengan seorang narasumber yang berlatar belakang wirausahawan. Dan sampai sekarang,aku belum punya ide mengenai narasumber tersebut. Padahal lusa, tugas ini harus dikumpulkan. "Gimana Bil? uda dapet narasumber ?" tanya Cacha,temanku. Aku hanya menggeleng lemah."Aduuh, gimana siih,kok nyantai banget kamu." katanya panik. "Bukannya nyantai,memang belum ada waktu. Kamu kan tahu sendiri kemarin nenekku baru aja meninggal." jelasku pasrah. "Iya juga sih, tapi aku ada sedikit info nih,ada salah satu restoran baru di Jl. Meliwis Putih,depannyaklinik optik. Coba aja kesana. Siapa tahu bisa kamu jadiin narasumber?" ujar Cacha menyemangati. "Boleh juga. Thanks ya, ntar aku akan coba ke sana." ucapku berbinar. "ya uda aku balik duluan ya, mau jemput adikku dulu. Good Luck!." Ujar Cacha sambil melangkah pergi."Iya hati-hati Cha..."
    Hmm, aku sedikit lega sekarang. Matahari begitu terik ketika aku sampai di sebuah restoran yang dimaksud Chaca tadi. Restoran itu bernama Rumah Makan Berkah. Tempatnya luas,bersih,dan nyaman. Awalnya, aku sengaja memesan segelas minuman. Hingga akhirnya, aku memberanikan diri bertanya pada pelayannya," permisi mbak? kalau boleh, bisa nggak ya saya ketemu dengan pemilik restoran ini?." tanyaku ramah. "Memngnya ada perlu apa ?" si pelayan tadi balik nanya. "Enggak sih,kalau misalnya boleh.saya lagi butuh narasumber untuk tugas kuliah saya mbak. Tolong ya ?." pintaku memelas.
    "Oh sebentar ya, saya ambilkan kartu namanya dulu. Soalnya jam segini pak Angga nya tidak berada disini." katanya sambil menuju tempat yang dimaksud. "Terimakasih banyak mbak..." ucapku senang. Akhirnya aku mengantongi sebuah kartu nama yang disitu, tertera nama yang tidak asing bagiku, Izwar Angga Prasetyo. Aku menghubungi nomor telepon yang tercantum disana,"Assalamualaikum ? hallo?." ucapku hati-hati. "Waalaikumsalam, dengan siapa ya ?." jawab suara diseberang. Suara itu,seketika membuatku merasa damai. "Hallo?" ucap Angga mengulangi. "Eh iya,  hallo, maaf sebelumnya. Perkenalkan saya Bila,saya dapat kartu nama anda dari restoran kemarin." jelasku singkat, mencoba tidak terdengar gugup."Oh iya,ada yang bisa dibantu?" tanyanya. "Emm,begini,sebenarnya saya ingin meminta bantuan anda agar bersedia menjadi narasumber saya untuk wawancara. Ini untuk keperluan tugas kampus saya. Dan waktu saya mepet sekali." Jelasku. "Baiklah,saya tidak masalah. Jadi kapan bisa mulai wawancara ?". tanyanya santai. Hatiku langsung bersorak gembira. Akhirnya aku dapat narasumber."Terimakasih banyak, apakah nanti sore anda sibuk?" tanyaku. "Bagaimana kalau selepas isya saja? sore saya masih ada urusan. Temui saya direstoran selepas isya." Kata Angga. "Oh,baik kalau begitu, maaf merepotkan anda...Assalamualaikum." ucapku lega. "Waalaikum salam".
     Aku menutup teleponku dengan senyuman lebar. Entah kenapa suara tadi jadi berbeda, suara yang teduh,santun....Aku semakin tidak sabar. Setelah meminta izin kedua orang tuaku, aku berangkat ke Rumah Makan Berkah selepas sholat isya. Kutemui pelayan yang memberiku kartu nama tadi,"permisi mbak? masih ingat saya kan? saya sudah bikin janji dengan pak Angga tadi siang. Sekarang saya musti keruangan mana?." tanyaku tersenyum manis." Oh iya mbak. Ini nanti mbaknya lurus saja dari sini, sebelah kiri ada ruangan pegawai,mbak masuk saja," Aku mengangguk paham dan membalas senyum bersahabat. Tanda terimakasih.
    Kuketuk pintu ruangan yang dimaksud pelayan tadi 2 kali,"Asalamualaikum?." "Waalaikum salam. silahkan masuk,pintunya tidak saya kunci" Balas Angga dari dalam. Kubuka pintu itu dan mengamati sekelilingku. Ruangan itu,luas. Terdapat beberapa meja dana kursi,serta loker penyimpanan. Disana, telah duduk seorang pemuda dengan kemeja putih lengan pendek."Silahkan duduk,kamu yang menelepon tadi kan?" tanyanya sambil tersenyum.Ada lesung pipit di pipi kirinya.
    Aku masih bengong memandanginya. Sepertinya aku pernah bertemu dengan pemuda ini. Tapi kapan? dimana?."Maaf.. silahkan duduk." Ujar Angga lagi."Eh iya, maaf.Benar saya yang menelepon tadi."kataku lalu duduk dihadapannya. Dia tersenyum ramah." baiklah, mungkin kamu harus sedikit santai. Jangan terlalu gugup begitu.Heheh.".Tampaknya pipiku memerah saat ini. "Baiklah terimakasih sekali lagi. Saya Salsabila Firdaus. Biasanya dipanggil Bila.saya mahasiswi ilmu komunikasi dan bla bla bla..." Aku memeperkenalkan diriku seara singkat.
    Dia dengan seksama mendengarku bicara." Jadi bapak bersedia kan menjadi narasumber saya? ini mengenai asal muasal berdirinya usaha bapak, omsetnya perbulan dan juga suka duka bapak merintis usaha ini. Bapak juga harus memeberikan tips bagi pengusaha pemula..."ocehku. Angga tersenyum setiap kali aku menjelaskan semuanya,"mungkin akan lebih santai jika mbak Bila manggilnya mas saja? memangnya saya sudah setua bapak kamu ya?hehehe" ujarnya bercanda. Aku sedikit salah tingkah didepan pemuda yang kuduga usianya 6/7 tahun diatasku ni. "Maaf hehehe,bukannya begitu. Saya ingin lebih sopan saja pak,eh Mas Angga..." Dia tersenyum lagi.'Nah begitu kan kedengarannya lebih enak.Okay,ayo kita mulai wawancaranya..."
                                                   ***
    Malam itu belangsung lancar. Tugasku sudah beres dan aku masih berhubungan baik dengan mas Angga. Jujur, akhir-akhir ini aku sering memikirkannya. Ada satu perasaan yang masih mengganjal. Rasanya aku memang pernah bertemu dengannya sebelum ini. Tapi kapan? dimana?. Aku masih mengedit hasil wawancaraku ketika Dion menghampiriku," Sibuk amet adekku yang satu ini." godanya sambil memencet hidungku. "Iya nih, ada tugas dari kampus. Habis adari mana?." tanyaku. "Cari makan aja tadi. Sebenarnya gratisan sih.Hehehee" Ujarnya sambil nyengir. "Iya deeh, eh gratis ? tuh kaan gak ngajak-ngajak aku." ucapku manyun."Alah, kamu kan jarang makan diluar Bil.Ini tadi si Angga lagi kumat baiknya. Anak-anak pada ditraktir.Maklum, dia baru berhasil bikin rumah makan." jelas Dion.
    Aku langsung bengong. "Rumah makan mana?." tanyaku cepat. "Rumah makan Berkah. Baru loh itu, di Jl. Meliwis Putih. Yang punya temen kuliahku.Kenapa?." tanya Dion. "Yang punya namanya siapa? jangan-jangan Izwar Angga Prasetyo?." tanyaku lagi. "Kok tahu? habis makan disana juga ya ?." tanya Dion mengernyitkan dahi. "Enggak sih,tapi kemarin aku baru aja wawancara dia untuk tugasku ini. Ternyata temen kuliah kamu to." Jelasku sambil manggut-manggut mengerti. "Oh, gitu? Angga anak yang pekerja keras. Dulu aja dia masih kesana-kemari jadi pegawai restoran. Eh sekarang ga nyangka uda punya restoran sendiri. Ya uda, aku duluan ya? ada janji sama temen.. Assalamualaikum...". "Waalaikumsalam,hati-hati dijalan!." teriakku.
    Dan terjawab sudah pertanyaanku selama ini. Aku memang pernah bertemu dengan Angga. Dimana? ya dirumah ini. Waktu dia mengantar pesanan makanan Dion 3 tahun yang lalu. Ada sedikit rasa kagum, ternyata dia bukan mahasiswa yang kerjaannya cuman minta duit orang tuanya. Sosok yang begitu inspiratif dan memotivasi. Singkatnya, setelah itu aku hilang kontak dengan Mas Angga beberapa bulan. Mungkin dia sibuk.
    Sampai akhirnya, Cacha mengajakku makan di Rumah Makan Berkah. Tidak ada perasaan apapun kecuali gugup. Rasanya lebih gugup daripada menghadapi ujian kimia. Aku melihat kesekelililng,tidak tampak sosok Angga disana. Entah kenapa aku berharap bisa bertemu dengannya." Enak ya makan disini, bikin ketagihan. Pelayannya ganteng-ganteng lagi.Hehee"komenar Cacha. Aku hanya tersenyum. "Kamu kan pernah wawancara pemiliknya dulu,ganteng gak? denger-denger masih muda juga."Ujar Cacha genit."Apaan sih? kumat keponya. Orangnya baik kok,ramah." jawabku singkat. "Masih single ya?." tanya Cacha lagi."Kelihatannya sih gitu,kurang tahu juga."jawabku datar. "Huh,aku jadi penasaran,hehee.' Aku menggeleng-geleng kepala melihat kelakuannya,"Aku ketoilet dulu ya,?" kataku.
    Aku berjalan tenang ketika tiba-tiba seorang pelayan menabrakku dan menumpahkan minuman ke jilbabku. "Ya Tuhan! maaf ya mbak, saya tidak sengaja,sungguh..." kata pelayan tadi. "Iya nggak papa,lain kali hati-hati ya?." ujarku tenang."Oh my God! jadi basah gini. kalau jalan pakai mata juga dong mbak,jangan cuman kaki! mau saya aduin bos kamu?." bentak Cacha. "Udahlah Cha? cuman basah dikit kok. Mbaknya juga nggak sengaja..aku ketoilet dulu." "Saya benar-benar minta maaf." ucap pelayan tadi.Cacha kembali ketempat duduknya dengan manyun.
    Setelah itu aku keluar toilet dan berniat segera pulang. "Maafkan pegawai saya ya mbak?." Terdengar suara disampingku."Mas Angga?" ucapku kaget."Eh mbak Bila ya? ternyata mbak Bila yang tertabrak tadi? kok bisa kebetulan gini? maaf sekali lagi mbak ya?". "Iya nggak papa mas,cuman sedikit kok basahnya."jelasku. "Tapi jadi kotor gini jilbab kamu. Saya merasa harus bertanggung jawab, Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kita bicara di dalam ruangan saja?." tawar mas Angga."Emm,iya tapi saya ngabari temen saya dulu, kasihan kalau nunggu lama." kataku.Mas Angga tersenyum dan mengangguk. Ada lesung pipit disana, lesung pipit yang lama tidak kulihat.
    Akhirnya kami sudah berada didalam ruangan pegawai.Aku mengamati sekelilingku, tidak jauh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. "Wah, bisa kebetulan gini ya? Bagaimana kabarnya mbak?." tanya mas Angga ."Alhamdulillah sehat mas. Mas sendiri bagaimana?." jawabku." Ya seperti yang mbak Bila lihat?hehe. Oh ya, sebagai permintaan maaf saya, saya boleh ya mengganti jilbab kamu? kebetulan saya ada beberapa jilbab disini, oleh-oleh dari Aceh, kemarin saya dan keluarga besar baru saja dari sana." ujar mas Angga. "Nggak usa mas, ngga usah repot-repot. Kan cuman basah sedikit ini."kataku cepat. "Tolong diterima ya? jadi saya tidak merasa berhutang." Mas Angga menyodorkan sebuah bungkusan jilbab. Akhirnya aku menerimanya dengan perasaan tidak enak. "Kamu bisa ganti jilbabnya diruangan sebelah sana." Mas Angga menunjukkan ruangan yang dimaksud."Terimakasih banyak mas," Dia tersenyum lembut, tentu saja masih ada lesung pipit di pipi kirinya. Jilbab itu berwarna merah muda, begitu indah.
    "Mbak Bila terlihat lebih rapi daripada yang basah tadi? hehe.Warnanya juga cocok dengan kulit kamu." Puji Angga. "Terimakasih mas,hehe. Sepertinya saya sudah harus pulang.Masih ada urusan dirumah."kataku. "Oh iya, maaf ya sekali lagi. Jangan sungkan mampir kemari..." Kata mas Angga ramah. Aku mengangguk dan tersenyum,lalu melangkah pergi. "Eh tunggu mbak Bila?." panggil mas Angga lagi. " ya?" jawabku."Maaf boleh minta pin atau nomor teleponnya? yang kemarin tidak sengaja terhapus." Aku tersenyum dan memberikan pinku padanya. "Terimakasih, hati-hati ya.. diluar mendung. Mungkin sebentar lagi hujan. Assalamualaikum..." Kata mas Angga. Aku mengangguk lagi,"waalaikumsalam."
                                                       ***
    Aku berbaring dikamarku, sekarang ada banyak pertanyaan yang berlarian diotakku. Pertanyaan-pertanyaan aneh yang membuatku tersenyum sendiri. Terimakasih untuk yang kesekian kalinya,entah ini ucapan terimakasih yang keberapa. Untuk jilbabnya juga, pasti akan aku simpan dengan baik. Barang pertama yang kau berikan padaku.Iya. Akan aku simpan dengan baik.Aku masih senyum-senyum tidak jelas ketika ponselku berkedip, kontaknya tertulis Izwar Angga Prasetyo.
    Aku mulai kacau, sejak kapan aku merasa gugup hanya karena akan membuka pesan dari sesorang? Ya Tuhan, dia hanya menanyakan apakah tadi aku kehujanan. Dan ya, satu kalimat sederhana yang mampu membuatku sulit tidur malam ini," Mbak Bila terlihat cantik dengan jlbab tadi :)" Aku menyadari ada hal yang berbeda. Sepertinya ada hal lain yang membuatku lebih bersemangat. Apa mungkin karena Angga ?.Intinya sejak sore itu, kami semakin akrab. Sampai sepupuku Dion, menanyakannya. "Kamu deket ya sama Angga? dia sering nyeritain kamu." tanyannya sok akrab."Deket gimana? biasa aja tuh. Kita cuman temen."jelasku ringan. "Masak siih? kayaknya si Angga naksir kamu tuuh. Yaa nggak papa sih,anaknya juga baik. uda mapan." ocehnya lagi.
    "Apaan sih?orang cuman temen kook. Lagian mana mungkin mas Angga suka sama cewek biasa kayak aku gini." ujarku. "Ih,siapa tahu?lagian kalau dilihat-lihat, tipe Angga itu kayak kamu gini,pendiem,berjilbab,gak gaul juga,hahah, peace!" Tambahnya makin nglantur. "Huu kurang ajar ya ngatain aku kurang gaul.Awas ya!." Aku menggelitiki perutnya dengan kesal. Tapi apa mungkin? apa mungkin dia ada rasa?. Pemuda seperfect dia? Ya Tuhan , aku semakin gila saja. "Ciee,bengong! Nglamunin Angga tuuh, hehehe." "Ih, nggak lah. Ngapain coba?," Aku menggelitikinya lagi. Kami terus tertawa sampai langit menampakkan semburat jingganya.
                                                     ***
    Sejak dia hadir didalam hidupku, sepertinya ada banyak perubahan yang terjadi. Bahkan kata Cacha,aku yang sekarang sudah tidak pendiam lagi,aku lebih ramah dan terbuka."Itu tandanya kamu sedang jatuh cinta." begitu katanya. Selama ini, aku tidak pernah mengagumi laki-laki kecuali ayahku. Tapi mas Angga?ada rasa kagum juga padanya... mas Angga selalu ada dipikiranku. Dimataku, dialah pelangiku...
    Dia hadir ketika aku masih begitu polos. Dia hadir dengan ketidaksengajaan yang serba kebetulan. Dia mengikuti bayanganku yang tak tampak.Dia hadir disetiap kelemahanku. Namun aku tidak tahu apakah dia memiliki perasaan yang sama? apakah dia juga nyaman didekatku?. Aku tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Aku akan mengikuti semuanya seperti air yang mengalir. Aku memasrahkan semuanya pada yang diatas. Allah pasti lebih tahu bagaimana yang terbaik.
    Sore ini, mas Angga mengajakku keluar. Bukan ngedate,tapi menemaninya membeli bahan-bahan makanan di restorannya. Aku juga tidak tahu alasannya mengajakku. Apa dia menganggap aku istimewa? atau hanya sekedar teman yang baik. Yang jelas, aku senang bersamanya. Kami bicara banyak hal tentang hobi kami.Saling bertukar cerita dan memberi banyak pandangan hidup.Tentang keluarganya,sifatnya,impiannya. Dia juga bilang aku ini gadis yang berbeda dari gadis kebanyakan. Dan hal itu semakin membuatku salah tingkah."Mbak Bila sudah terlihat dewasa,jarang lho jaman sekarang ada perempuan seperti kamu.Kamu cantik, cantik luar dalam..." ujarnya pelan. Aku semakin tersipu dan kehilangan kosa kata. "Hehe,pasti mas Angga bercanda."Balasku malu-malu. "Tidak,saya hanya mengamati kamu dari dulu, dan itulah kesimpulan saya." ucapnya sambil tersenyum.
    "Mas jangan berlebihan,takutnya saya jadi riya' nanti. Hehe."jawabku. Dia tersenyum lagi,lesung pipitnya itu semakin membuatku tidak ingin melepaskan pandanganku darinya. Tuhan, sepertinya aku menaruh hati pada pemuda ini."Saya boleh bertanya sesuatu?." tanyannya kemudian. Aku hanya mengangguk pelan. "Mbak Bila sudah punya pasangan?." tanyanya kaku. Aku tertawa mendengarnya,"belum mas, memangnya kenapa?" tanyaku. "Heheh, maaf ya? bukannya apa-apa. Pengen nanya aja."ujarnya tertawa juga. "Mas ini ada-ada saja. Memangnya selama ini apa pernah saya terlihat jalan bareng laki-laki?."tanyaku. "Lha ini? .kita kan sedang jalan? heheh." katanya bercanda. Lalu kami tertawa bersama. Entah kenapa, aku merasa begitu bebas, aku merasa bahagia meskipun hanya duduk disini,ngobrol,saling cerita... Bagiku, itu semua sudah cukup membuatku bahagia.
    Hari dan bulan berlalu seiring makin sulitnya aku melupakan mas Angga. Inilah yang aku takutkan, aku tidak bisa mengontrol rasa cintaku. Hari-hariku bergerak begitu lambat. Dan hanya dia yang sering muncul dalam lamunanku. Aku selalu berdoa semoga rasa cintaku itu, tidak membuat aku lupa pada Tuhanku. Dalam setiap sujudku aku mendoakannya.Aku ingin bersamanya. Semoga Tuhan memberikan kami kebahagiaan.
    Dan kini,aku tahu apa itu rasa cinta. Awalnya aku memang tidak ingin mengakuinya. Namun ternyata rasa itu masih saja ada. Bahkan hanya dengan mendengar namanya saja, hatiku langsung damai. Tapi sekali lagi, aku tidak tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama. Aku sempat berpikir ulang, benarkah aku mencintai pemuda yang menganggapku teman biasa? Pemuda pekerja keras yang sopan dan selalu menghormatiku dengan memanggil mbak Bila? pemuda dewasa dengan usaha yang susah payah dirintisnya? bukankah semua itu terdengar sangat berbeda dengan apa yang sudah ku capai?. Memangnya apa yang sudah kucapai? mahasiswi biasa, belum bekerja, belum punya prestasi apa-apa. Apakah aku pantas mencintainya?.
    Aku masih tetap menunggu,aku masih tetap berharap, bahwa dia akan segera mengungkapkan isi hatinya. Kini bulan berganti tahun. 2 tahun sudah aku menunggu kepastian. Aku menunggu dia datang dan mengungkapkan perasannya. Namun aku hanya seperti orang bodoh yang selalu memnghayal terlalu tinggi. Sampai saat ini, hubunganku dengan mas Angga berjalan wajar. Dia sering mengajakku keluar, entah beli buku,atau hanya minum es krim sebentar. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Mana mungkin dia selalu memperhatikanku jika tidak menaruh rasa padaku?. Atau mungkin selama ini,aku yang ke GR an. Mungkin dia hanya menganggapku sebagai adiknya,temannya? mungkin aku salah mengartikan kebaikannya.
                                                       ***
    Aku tertidur lelap ketika kumandang adzan membangunkanku.Ternyata sudah isya, Ya Allah bagaimana bisa aku sampai ketiduran begini? aku segera mengambil air wudlu dan sholat. Aku tengah melipat sajadahku ketka ibu memanggil. "Bila? nanti ayah sama ibu ingin bicara." ujarnya lembut.Aku mengangguk tenang dan segera keluar menemui ayah dan ibu. Kami duduk diruang keluarga, "Bila,usia kamu kan sudah tidak muda lagi. Tidak baik menunda-nunda pernikahan bahgi seorang wanita..." Ayah memulai pembicaraan. Aku hanya diam dan menunduk," Bila baru mau 23 tahun  kan? itupun masih beberapa bulan dari sekarang." ucapku pelan. "Dengarkan ayahmu dulu Bila," kata ibuku. "Kamu anak perempuan satu-satunya, kami ingin yang terbaik untuk masa depanmu. Kamu sudah waktunya berumah tangga nak, kami memang tidak ingin memaksamu. Hanya saja apakah saat ini kamu punya teman dekat? atau seseorang yang sekiranya tertarik denganmu?." tanya Ayahku.
    Aku diam lagi dan menggelengkan kepalaku," Bila tidak punya pacar Yah." ucapku datar. "Kamu tidak keberatan kan? kalau kami mengenalkan kamu dengan seorang pemuda? pemuda ini adik dari mbak fitri,anak teman ayahmu. Kamu pernah menghadiri pernikahannya dulu." jelas ibuku. Aku hanya mengangguk pelan."Nah adiknya itu baru lulus kuliah tahun lalu. Anaknya baik, santun. Sudah punya penghasilan juga. Sekarang meneruskan bisnis kakeknya di bidang tekstil. Dia juga aktif diyayasan yatim piatu, benar-benar pemuda yang selalu positif dan dewasa kan?. Menurut kami, dia pemuda yang sesuai dengan kriteria Bila...".jelas ibuku serius.
    Ada sesuatu yang serasa menikam dadaku. Ada sesuatu yang langsung menyentak bola mataku. Namun,aku hanya bisa menunduk. "Kami bukan mau memaksa pilihan kamu,kalian bisa saling mengenal dulu,kalau sekiranya Bila nggak sreg, Bila boleh menolaknya, bagaimana?." ujar ibuku lembut. Aku diam. "Tidak papa tidak dijawab sekarang nak, dipikirkan dulu, jangan samapai kamu malah tertekan,ayah dan ibu ingin kamu dapat yang terbaik." Tambah ayahku. "Baik ayah, Bila izin kekamar dulu,inshaallah segera memberi jawaban..." Kataku lalu masuk ke kamarku dengan perasaan campur aduk.
                                                       ***
    Kalau boleh jujur,aku tidak keberatan jika memang hal itu dapat membuat orang tuaku bahagia. Namun aku masih merasa berat. Aku masih menunggu seseorang,aku masih mengharapkan seseorang itulah yang nanti akan mengkhitbahku. Namun keadaan berbanding terbalik dengan apa yang aku harapkan. Mas Angga semakin jarang menghubungiku, kita jarang berkomunikasi. Ada yang berubah,aku kehilangan kabar mas Angga, dan dia semakin jarang kelihatan. Aku masih diliputi rasa bimbang dengan perasaanku, entah kenapa aku masih ingin menunggu.Masih ingin mewujudkan khayalanku pada seorang laki-laki yang kukagumi,laki-laki yang selalu memenuhi pikiranku belakangan ini.
    Menikah itu, bagi sebagian orang memang terdengar mudah. Mendapatkan jodoh bagi sebagian orang, memang tampak seperti sedang memilih pakaian yang akan dipakai hari ini,simple. Namun dimataku,semuanya tidak sesederhana itu. Aku memang ingin menikah,hanya saja aku masih menunggu seseorang. Iya,aku menunggu mas Angga. Tapi sampai kapan? sampai kapan aku akan bersabar menunggunya jika ternyata dia tidak menginginkanku sama sekali. Bagaimana mungkin aku akan mempertahankan  cinta kepada seorang pemuda yang bahkan saat ini aku tidak mengetahui kabarnya, keberadaannya, perasaannya?. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba datang melamarku sedangkan saat ini dia sama sekali tidak mengungkapkan perasaannya sama sekali. Apakah aku akan menyetujui perkenalaanku dengan pemuda pilihan ayah? apakah salah jika hanya menegenal lebih jauh? Ya Tuhan, ternyata jatuh cinta itu rumit. Setiap langkah yang akan aku ambil penuh teka-teki dan membuatku takut memutuskan. Apa yang harus aku lakukan?...
   
Jingga Sejuta Makna
   Katanya, aku hanya seseorang yang menjengkelkan. Suka bikin keributan dan menjaili orang lain. Aku selalu merepotkan dan suka membuat orang lain kesal. Katanya juga, aku ini pasti tidak akan dapat keberuntungan jika aku belum bisa merubah sifatku itu. Aku hanya menanggapinya dengan bilang, " Ini hidupku, bukan hidupmu". Lalu dia hanya akan menaikkan pundak sambil mengangkat alisnya. Tak peduli.Ya! Rizky terdekatku selama ini, sejak masih sekolah TK bahkan. Dan kini, kita sudah beranjak dewasa, sebentar lagi kita akan lulus SMA. Rumah Rizky berada tepat disamping rumahku. Ayahnya seorang pengusaha tekstil dan keluarga kami dekat satu sama lain.
    Aku lebih suka memanggilnya Kiki daripada Rizky. Kiki 180 derajat berbeda dariku. Bukan hanya karena aku perempuan, dia laki-laki. Tapi juga sifat-sifatnya yang lain. Dia teliti, rapi dan overplanning. Tapi,cowok berkacamata itu selalu membuatku heran. Kenapa dia tidak mau orang lain tahu bahwa dia sebenarnya pandai melukis.Sangat pandai malah.
    Selama ini, hanya kita berdua yang mengetahui hal ini. Bahkan keluarganyapun tidak ada yang tahu. Dan layaknya cerita-cerita petualang hollywood, kami memiliki sebuah tempat persembunyian yang kami desain sendiri. Semacam pondok kayu berukuran 5x4 meter. Kecil memang,tapi kami menghabiskan separuh tabungan kami untuk membangunnya. Disana ada berbagai barang yang bagi kami,nilainya sangat berarti. Salah satunya seperangkat alat lukis,tentu saja. Juga foto-foto perjalanan hidup kami yang memenuhi semua sisi dinding ruangan. Pondok kecil itu, kami namai dengan sebutan,"Depiction Ed'n". Dia sendiri yang memberi nama itu, " Surganya Lukisan". Karena di hanya disanalah ia bisa leluasa melukis dan mengeksplore kemampuannya tanpa ada orang lain yang tahu. Hanya aku! iya tentu hanya aku yang tahu.
    Suatu hari, entah sudah beberapa bulan dari sekarang,kita sempat beradu mulut. " Hey! coba beri aku satu alasan logis kenapa kau tidak mau orang lain tahu tentang bakatmu ini?". Kataku sambil menempel satu lagi fotoku dan Kiki di dinding Depiction Edn. Foto saat sekolah kita mengadakan kamping tahunan. Dia tetap menggores kuas rampingnya itu diatas kanvas.Entah apa yang hendak ditulisnya. Aku tidak mengerti."Ini hidupku, bukan hidupmu". Jawabnya datar." kau mengcopy kata-kataku minggu lalu!". Balasku sambil memanyunkan bibir.
    Dia membernarkan letak kacamatanya sambil tersenyum menyeringai,"aku bosan dengan pertanyaanmu tadi".katanya,pelan. Aku beranjak dari tempatku duduk dan berdiri tepat dihadapannya," maksudku apa yang sebenarnya kau cari?coba pikir!jika banyak orang yang tahu kau punya potensi dibidang ini,masa depanmu akan jauh lebih bagus.Akan ada banyak orang yang mungkin tertarik bahkan membeli beberapa karyamu,lukisanmu dipajang dimana-mana,dan dikagumi oleh banyak orang". Ujarku meluap-luap."Aku tidak mencari itu semua,lukisan dibuat untuk dinikmati maknanya". Tukasnya tanpa ekspresi. Membuatku kehilangan selera."Bukankah akan lebih dikagumi bila banyak orang bisa melihatnya?". Sergahku dengan tegas."Luna,aku tahu kau memperdulikanku,karya-karyaku.Tapi aku ingin kita tetap seperti ini. Melukis hanya dalam Depiction Edn! Jangan paksa aku untuk mempublikasikan semua ini!" Katanya sungguh-sungguh.Dia tetap fokus pada kanavasnya sedang aku menyerah berdebat dengannya. Hasilnya selalu sama. Aku hanya berharap, bahwa dia menciptakan seni bukan hanya untuk dirinya sendiri.Tapi juga untuk setiap orang yang menyukai seni.
    Kiki sangat mencintai lukisan. Dia melukis apa saja yang terlintas dalam otaknya.Hal yang tidak masuk akal sekalipun. Dan momen yang paling aku sukai ialah, saat dia menjadikanku model lukisannya, sebuah lukisan dengan judul "Luna in The Depiction Edn", menggambarkan tubuhku dengan balutan gaun sutra panjang berwarna jingga. Dengan rambut tergerai yang begitu hidup, itu lukisan favoritku. Aku merasa tampil seperti dewi atau semacamnya.
    Beberapa bulan yang lalu juga,kita sempat makan malam di Depiction Edn. Bukan menu spesial, hanya dua potong sandwich dan dua cangkir coklat hangat. Itu pertama kalinya Rizky mengucapkan alasan yang susah dicerna,kenapa dia tidak ingin orang lain tahu tentang lukisan-lukisannya. " Aku tidak ingin mereka diluar sana mengenangku ataupun mengetahui setitik sejarah hidupku ketika aku telah tiada nanti..." Aku menganga."Kenapa begitu?". " Karena itu akan menghalangi jalanku untuk menuju surga yang sebenarnya".
    Malam itu,aku tidak bisa tidur. Apa sebenarnya maksud dari ucapannya tadi sore. Alasan yang sangat sulit dipahami. Seperti sebuah teka-teki. Kiki memang pribadi yang tertutup bahkan dengan teman-teman sekelasnya. Sepanjang pengamatanku, hanya akulah teman baiknya. Mungkin teman-teman yang lain merasa risih berada didekatnya, seperti berbicara dengan manekin hidup yang dingin. Menyeramkan. Membosankan. Aku tahu 99% semua kelakuannya, sifat maupun tingkah polahnya sejak kecil. Dan baru malam itu, aku merasa bahwa dia menyembunyukan sesuatu dariku, sesuatu yang besar.
                                                   ***
    Suatu senja, dikediaman Rizky...
    Aku mengunjungi keluarga Rizky yang baru pulang dari luar kota. Tentu saja aku tidak hanya mengharapkan hadiah, tapi juga ingin segera bertemu dengan Rizky. Hampir satu pekan aku tidak melihat wajah anehnya itu. Namun ketika aku tiba disana,ternyata dia tidak sedang berada dirumah. Ayah dan ibunya bilang Rizky ada suatu urusan yang harus segera diselesaikan. Apa?urusan apa? dia tidak pernah cerita. Ini suatu kejanggalan bagiku,tidak biasantya Rizky keluar tanpa mengajakku.Aku diam. Aku akan ke Depiction Edn.
    Benar saja, aku menemukannya disana. Dia tampak sedikit pucat."Ada apa denganmu?bagaimana kabarmu?kau sakit?".tanyaku. Rizky tersenyum dan menggelengkan kepala. Lalu ia menyodorkankotak kado berwarna jingga,persis seperti gaun yang ia lukis dulu."Apa ini?".tanyaku sambil mengamati kotak itu," oleh-oleh dari  luar kota kemarin,". "Wah, thanks ya,ini yg aku tunggu.hehee,o ya? kemarin kamu dari mana?". tanyaku. "Aku keluar sebentar". jawabnya datar."keluar kemana?". tanyaku lagi."kenapa aku harus bilang padamu?".Rizky balik nanya. Aku memanyunkan bibir,merasa dianggap tidak penting. Ataukah memang seperti itu?.Kita toh hanya teman biasa. Rizky tertawa dan mengusap kepalaku dengan gemas."Kemanapun itu,percayalah itu bukan hal yang ingin kau ketahui saat ini". Katanya. Aku terpaksa harus mengubur rasa penasaranku dalam-dalam. Dan itu menyebalkan.
    Temaran lampu belajarku menyinari kado dari Rizky tadi,aku membukanya perlahan dan betapa isinya membuatku mulutku setengah terbuka.Takjub. Sepasang sepatu,putih gading,dihiasi nama dibagian high heellsnya! namaku tetu saja. Aku masih mengagumi sepatu itu dan menerka-nerka berapa harganya?apa dia khusus memesan?apa hanya kebetulan ada nama perusahaan yang mirip namaku?. Tumben dia membelikan oleh-oleh sebagus ini.
    Sebuah kertas mungil menggantung diujung sepatu,kutarik tali yang mengikatnya dan mulai membaca tulisan latin yang memenuhi kertas tersebut."MALAM INI,SEPATU, GAUN JINGGA,PUKUL 8 di DEPICTION EDN,DONT BE LATE!". Butuh waktu sepersekian menit untuk membuatku paham,makna dari pesan yang serba singkat itu.Aku terperanjat melihat jam dinding menunjukkan pukul 19.45 WIB.Segera kukenakan dress jingga yang pernah kupakai saat Rizky melukisku dulu. Memakai sepatu pemberiannya dan tentu saja menyemprotkan parfume jasmine hadiah dari pamanku 3 bulan lalu. Juga menyempatkan mengoles lipgloss di bibir keringku.
    Entah berapa lama setelah itu,aku tiba di Depiction Edn dengan nafas yang memburu. Aku mengangkat gaunku dan berlari menuju pondok kecil yang disan pasti dia sudah menunggu. Aku terengah-engah didepan pintu,tidak sempat merapikan rambutku. Rizky diam, memandangiku dengan tenang. Dia memakai setelan jas putih dengan tuksedo hitam yang memukau. Aku baru menyadari betapa atampannya dia malam ini. Seperti pangeran khayalan negeri dongeng.
    "Maaf," bisikku. Dia menghampiriku dengan tenang, tatapannya teduh."Lihat betapa indahnya dirimu malam ini." pujinya sambil menyingkap geraian rambut dipipiku. Aku masih mengatur napas,"Aku berantakan" ucapku,cemberut."Tidak,inilah keindahanmu Luna,aku suka. Kau cantik malam ini, selamat datang di surga. Yang mendekati surga sebenarnya...".Dia berteriak sambil mematikan saklar lampu,membiarkan gelap berkuasa, dan membiarkan cahaya bulan mengintip dari celah jendela,musik lembut mengalun perlahan,menggoda kami untuk bergerak kekanan dan kekiri, dengan lengannya yang sempurna melingkar di pinggangku. Kami berdansa.
    Kukalungkan lenganku pada lehernya,hening. Hanya alunan musuik klasik yang berbicara. Bahkan aku tidak tahu aku masih bisa berkata-kata atau tidak. Malam ini dia berbeda, dan aku suka. Sepersekian detik, aku melihat tatapan matanya dikegelapan, tatapan mata seorang sahabat yang sejenak meyakinkanku ada rasa lain disana. "Luna, kau diam sja? kaget ya melihatku seperti ini?". tanyanya tersenyum. Aku mkin mempererat pelukanku,tidak ingib menjaab pertanyaannya. Lalu dia berkata lagi, tepat di belakang telingaku, berbisik lirih,penuh makna," Luna, i want you, Now, Tomorrow, and forever...". Dan lagi-lagi aku hanya mempererat pelukanku," Apa benar ini Kiki yang aku kenal?".tanyaku. "kenapa?kau tidak percaya ini akau? apa aku kurang puitis kali inai?".tanyanya tersenyum lagi."Kau bergurau, ini hala yang paling manis yang pernah kita lakukan. Bahkan ini pertama kalinya kita belum bertengkar seperti biasanya." ujarku. Dia tersenyum,merengkuh wajahku dan berbisik lagi," I want you, now, tomorrow, and forever..." Aku tidak mengatakan apapun,tapi tatapanku kurasa sudah cukup mencerminkan jawabannya.
    Cahaya bulan masih menyinarti siluet kami, hingga Rizky mengangkat wajahku sampai hidung kami berdekatan,gelap, tenang, musik berhenti. Cahaya bulan semakin meredup seiring semakin hangat pelukan kami,membuat melayang, memikirkan perasaan-perasaan tidak masuk akal yang kami alami. Dia,kami aadalah sahabat. Tapi saat ini, kami lebih dari itu.
                                                   ***
    Tapi sekali lagi, itu beberapa bulan yang lalu,aku hanya seperti orang gila yang kehilangan semangat. Sudah hampir satu bulan Rizky kritis dirumah sakit. Aku baru mengetahui bahwa ia terkena kanker darah. Aku baru tahu kepergiannya yang katanya"keluar sebentar" itu sebenarnya ialah rutin berobat ke rumah sakit. Kenapa kau tidak pernah jujur,setelah selama ini persahabatan kita,setelah selama ini perasaan kita, saat kita sedekat ini. Kenapa keluargamu juga merahasiakannya dariku. Beri aku alasan, jawab aku.
    Sampai saat ini,lukisannya masih tersusun rapi di Depiction Edn, dan sudah 3 hari ini aku tidak mengunjunginya di rumah sakit. Bukan karena malas ataupun hal yang lain. Tapi karena memang ternyata dia sudah pergi, selamanya. Di Edn yang sebenarnya...
    Aku masih termenung di Depiction Edn,hanya ditempat inilah aku bisa merasakan keberadaannya, seringainya yang sinis mengejek, dan tentu saja saat ia tengah sibuk melukis di kanvasnya itu.Aku ingin bertanya, mengapa dunia begitu fana? mengapa semua seolah terpaksa berakhir ketika aku,ketika Rizky, ketika kami berdua baru merasakan arti kebersamaan kami selama ini. Kebersamaan yang indah,kebersamaan yang sayang untuk dilupakan.
    Lagi, aku masih termenung setiap malam di Depiction Edn. Diam didepan kanvas, memandangi karya terakhirnya, Sepasang kekasih tengah berdansa, masing-masing mengenakan gaun jingga dan setelan jas putih dengan tuksedo hitam yang memukau. Diterangi cahaya bulan yang mengintup di celah-celah jendela...Lagi, aku masih termenung setiap malam di Depiction Edn. Merasakan hembusan napasnya,memperhatikan kecintaannya terhadap lukisan,yang kini terbengkalai. Dalam balutan dress jingga yang sudah tiga hari ini tak kulepas sedetikpun dari tubuhku, aku mencoba menggerakkan jemariku, tanganku gemetar mengarahkan kuas ramping itu,sedikit demi sedikit aku mulai membuat sebuah bentuk. Lama kelamaan bentuk itu terlihat jelas. Dan ternyata itu hanay bulatan besar berwarna putih. Bulan. Bulan terang yang dengan sempurna memamerkan gerhananya ketika kami berdansa ditempat ini... kemarin. Rasanya baru kemarin.
    Dan lagi, aku masih termenung setiap malam seperti orang gila didepan karya terakhirnya. Sebuah lukisan yang diberi nama "Eclipse in The Depiction Edn" Sampai tiba waktunya tubuhku kurus kering dan siap untuk mengejarnya, di Edn yang sesungguhnya...
                                                      ***

Sandi Ovinia, 27 Desember 2015

Flickr Images

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Sandi Ovinia Putri

Tulisan tidak hanya berhenti di satu masa dan hanya satu kepala.
Tulisan bisa lebih kuat dari pada peluru, sebab ia mampu menembusa daya pikir kita.

Popular Posts