f

ARTIKEL MIGAS

/
0 Comments


 
ExxonMobil di STIKES ICSADA

MIGAS ADA, UNTUK MEMBAGIKAN SUMBER ENERGI
BUKAN MEMBAGIKAN MASKER PELINDUNG DIRI

            Minyak bumi merupakan bahan bakar fosil yang mudah terbakar dan sebagai sumber energi utama bagi kehidupan manusia.Berjuta tahun yang lalu, banyak zat sisa dari hewan maupun tumbuhan yang tertimbun didalam kerak bumi dan mengalami tekanan serta suhu yang tinggi dan akhirnya membentuk suatu senyawa yang dinamakan minyak bumi.
            Sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, minyak bumi sangat dibutuhkan oleh setiap elemen kehidupan. Dengan minyak bumi, segala aktivitas manusia di dunia ini serba cepat, mudah dan efektif. Namun semua itu tidak lantas membuat minyak bumi menjadi sumber daya alam yang aman dan nyaman.
            Sudah menjadi rahasia umum bahwa lingkungan perminyakan atau pengambilan minyak bumi ialah tempat bekerja yang mengandung banyak resiko. Dunia migas menjadi ajang perebutan lowongan kerja bagi sebagian orang dikarenakan tingginya gaji dan faktor yang lain. Hal ini biasanya berlaku di daerah yang memang memiliki potensi kandungan minyak bumi yang tinggi. Dunia migas ialah dunia kerja yang padat modal, padat resiko dan tanggung jawab.
            Salah satu hal yang dapat mengancam keaman para pekerja salah satunya ialah Gas H2S. Gas H2S terbentuk akibat adanya penguraian zat-zat organic oleh bakteri. Zat ini dapat ditemukan di lingkungan migas, pembuangan limbah industri,dll. Rumus kimia dari H2S ialah gas hydrogen sulfide yang terbentuk dari 2 unsur  hydrogen dan 1 unsur sulfur. Gas h2s juga disebut dengan zat asam atau uap bau. Gas ini memiliki sifat membakar kulit dan beracun. Bahkan bias langsung membuat sang korban jatuh pisan.
            Seperti yang dilansir oleh www.antarajatim.com, bahwa sempat terjadi insiden mengenai bocornya gas h2s di area migas Lap. Sukowati, Ds. Ngampel, Kec. Kapas, Kab. Bojonegoro tepatnya pada tanggal 13 Januari  2014 pkl. 17.55 WIB. Terdapat salah satu sumur yang bocor dan akhirnya mengeluarkan zat h2s.
            "Gas beracun H2 S yang keluar dari sumur minyak Sukowati mengakibatkan yang menghirup pingsan, serta lainnya mual-mual dan mengalami pusing," jelas Kapolsek Kapas AKP Suprijono, di lokasi kejadian.Ia menjelaskan bocornya sumur minyak Sukowati 29 di lapangan B, disebabkan ada batang besi dari atas "rig" terjatuh yang kemudian menimpa mulut sumur.
Ketika itu, katanya, ada sejumlah pekerja yang melakukan pekerjaan membongkar "rig", karena pengeboran sumur minyak 29 yang dilakukan Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB PPEJ) sudah selesai."Karena mulut sumur minyak tertimpa batang besi menjadi terbuka, sehingga mengeluarkan gas beracun H2S selama beberapa menit," ujarnya.
Di lokasi kejadian salah satu pekerja yang bernama Ayat pingsan dan menderita luka memar di kepala karena terjatuh dari ketinggian sekitar lima meter.Yang jelas, kondisi bocornya sumur minyak Sukowati 29 sudah terkendali, sebab sudah berhasil ditutup kembali oleh para pekerja. Sementara itu, Ketua RT 3 Desa Ngampel, Kecamatan Kapas Komari menambahkan dampak bocornya sumur minyak Sukowati 29 mengakibatkan belasan warga RT 3 yang rumahnya hanya berjarak sekitar 400 meter dari lapangan B sempat menghirup gas yang keluar dari sumur minyak.
Belasan warga, katanya, mengalami mual-mual, muntah dan kepala pusing, bahkan salah satu warganya yang bernama Sumiyati (42), pingsan."Warga sudah memperoleh pengobatan dari petugas medis JOB PPEJ termasuk memperoleh pembagian masker," jelasnya.
 Field Admint Superintendent JOB PPEJ Basit Syarwani menjelaskan pihaknya masih akan meneliti penyebab terjadinya kebocoran di sumur minyak Sukowati 29. "Kami secepatnya melaporkan kejadian ini kepada SKK Migas," jelasnya. (Didik Kusbiantoro,www.antarajatim.com)
Disamping membawa keuntungan ekonomi bagi perusahaan, pekerja serta daerah  penghasil migas, terdapat berbagai ancaman nyawa terkait resiko pekerjaan. Salah satunya ialah gas H2S tersebut. Selain menjadi peringatan, insiden tersebut harusnya menjadi evaluasi dari pengelola perusahaan itu sendiri. Bagaimana dan mengapa insiden tersebut bisa terjadi?.
            Hal seperti inilah yang menjadi PR besar para pengusaha dalam menjalankan pekerjaan mereka. Bahwa disamping keuntungan materil, keamanan serta terjaminnya kualitas alat pengaman dalam lingkungan kerja menjadi prioritas utama.
Dibutuhkan kedisiplinan, ketelitian, serta kesadaran juga dari para pekerja dan pemimpin perusahaan dalam bekerja. Kelalaian saat melaksanakan pekerjaan dapat berdampak fatal. Sesepele apapun itu, keamanan adalah nomor satu. Jaga lingkungan disekitar dan jangan membahayakan mereka. Minimalisir kebocoran gas H2S agar mereka baik pekerja maupun orang diluar sana, tidak ikut terkena dampak buruk dari zat asam yang disebabkan dari kurangnya keamanan kerja para pengelola perusahaan. Bagikan pada mereka sumber energi, bantu mereka menikmati aktivitas dengan aman, nyaman dan kondusif. Jangan bagikan pada mereka masker pelindung zat h2s yang dapat mengganggu serta melumpuhkan aktivitas mereka.

             
           


You may also like

Tidak ada komentar:

Flickr Images

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Sandi Ovinia Putri

Tulisan tidak hanya berhenti di satu masa dan hanya satu kepala.
Tulisan bisa lebih kuat dari pada peluru, sebab ia mampu menembusa daya pikir kita.

Popular Posts