f

Eclipse in The Depiction Edn

/
0 Comments
   
Jingga Sejuta Makna
   Katanya, aku hanya seseorang yang menjengkelkan. Suka bikin keributan dan menjaili orang lain. Aku selalu merepotkan dan suka membuat orang lain kesal. Katanya juga, aku ini pasti tidak akan dapat keberuntungan jika aku belum bisa merubah sifatku itu. Aku hanya menanggapinya dengan bilang, " Ini hidupku, bukan hidupmu". Lalu dia hanya akan menaikkan pundak sambil mengangkat alisnya. Tak peduli.Ya! Rizky terdekatku selama ini, sejak masih sekolah TK bahkan. Dan kini, kita sudah beranjak dewasa, sebentar lagi kita akan lulus SMA. Rumah Rizky berada tepat disamping rumahku. Ayahnya seorang pengusaha tekstil dan keluarga kami dekat satu sama lain.
    Aku lebih suka memanggilnya Kiki daripada Rizky. Kiki 180 derajat berbeda dariku. Bukan hanya karena aku perempuan, dia laki-laki. Tapi juga sifat-sifatnya yang lain. Dia teliti, rapi dan overplanning. Tapi,cowok berkacamata itu selalu membuatku heran. Kenapa dia tidak mau orang lain tahu bahwa dia sebenarnya pandai melukis.Sangat pandai malah.
    Selama ini, hanya kita berdua yang mengetahui hal ini. Bahkan keluarganyapun tidak ada yang tahu. Dan layaknya cerita-cerita petualang hollywood, kami memiliki sebuah tempat persembunyian yang kami desain sendiri. Semacam pondok kayu berukuran 5x4 meter. Kecil memang,tapi kami menghabiskan separuh tabungan kami untuk membangunnya. Disana ada berbagai barang yang bagi kami,nilainya sangat berarti. Salah satunya seperangkat alat lukis,tentu saja. Juga foto-foto perjalanan hidup kami yang memenuhi semua sisi dinding ruangan. Pondok kecil itu, kami namai dengan sebutan,"Depiction Ed'n". Dia sendiri yang memberi nama itu, " Surganya Lukisan". Karena di hanya disanalah ia bisa leluasa melukis dan mengeksplore kemampuannya tanpa ada orang lain yang tahu. Hanya aku! iya tentu hanya aku yang tahu.
    Suatu hari, entah sudah beberapa bulan dari sekarang,kita sempat beradu mulut. " Hey! coba beri aku satu alasan logis kenapa kau tidak mau orang lain tahu tentang bakatmu ini?". Kataku sambil menempel satu lagi fotoku dan Kiki di dinding Depiction Edn. Foto saat sekolah kita mengadakan kamping tahunan. Dia tetap menggores kuas rampingnya itu diatas kanvas.Entah apa yang hendak ditulisnya. Aku tidak mengerti."Ini hidupku, bukan hidupmu". Jawabnya datar." kau mengcopy kata-kataku minggu lalu!". Balasku sambil memanyunkan bibir.
    Dia membernarkan letak kacamatanya sambil tersenyum menyeringai,"aku bosan dengan pertanyaanmu tadi".katanya,pelan. Aku beranjak dari tempatku duduk dan berdiri tepat dihadapannya," maksudku apa yang sebenarnya kau cari?coba pikir!jika banyak orang yang tahu kau punya potensi dibidang ini,masa depanmu akan jauh lebih bagus.Akan ada banyak orang yang mungkin tertarik bahkan membeli beberapa karyamu,lukisanmu dipajang dimana-mana,dan dikagumi oleh banyak orang". Ujarku meluap-luap."Aku tidak mencari itu semua,lukisan dibuat untuk dinikmati maknanya". Tukasnya tanpa ekspresi. Membuatku kehilangan selera."Bukankah akan lebih dikagumi bila banyak orang bisa melihatnya?". Sergahku dengan tegas."Luna,aku tahu kau memperdulikanku,karya-karyaku.Tapi aku ingin kita tetap seperti ini. Melukis hanya dalam Depiction Edn! Jangan paksa aku untuk mempublikasikan semua ini!" Katanya sungguh-sungguh.Dia tetap fokus pada kanavasnya sedang aku menyerah berdebat dengannya. Hasilnya selalu sama. Aku hanya berharap, bahwa dia menciptakan seni bukan hanya untuk dirinya sendiri.Tapi juga untuk setiap orang yang menyukai seni.
    Kiki sangat mencintai lukisan. Dia melukis apa saja yang terlintas dalam otaknya.Hal yang tidak masuk akal sekalipun. Dan momen yang paling aku sukai ialah, saat dia menjadikanku model lukisannya, sebuah lukisan dengan judul "Luna in The Depiction Edn", menggambarkan tubuhku dengan balutan gaun sutra panjang berwarna jingga. Dengan rambut tergerai yang begitu hidup, itu lukisan favoritku. Aku merasa tampil seperti dewi atau semacamnya.
    Beberapa bulan yang lalu juga,kita sempat makan malam di Depiction Edn. Bukan menu spesial, hanya dua potong sandwich dan dua cangkir coklat hangat. Itu pertama kalinya Rizky mengucapkan alasan yang susah dicerna,kenapa dia tidak ingin orang lain tahu tentang lukisan-lukisannya. " Aku tidak ingin mereka diluar sana mengenangku ataupun mengetahui setitik sejarah hidupku ketika aku telah tiada nanti..." Aku menganga."Kenapa begitu?". " Karena itu akan menghalangi jalanku untuk menuju surga yang sebenarnya".
    Malam itu,aku tidak bisa tidur. Apa sebenarnya maksud dari ucapannya tadi sore. Alasan yang sangat sulit dipahami. Seperti sebuah teka-teki. Kiki memang pribadi yang tertutup bahkan dengan teman-teman sekelasnya. Sepanjang pengamatanku, hanya akulah teman baiknya. Mungkin teman-teman yang lain merasa risih berada didekatnya, seperti berbicara dengan manekin hidup yang dingin. Menyeramkan. Membosankan. Aku tahu 99% semua kelakuannya, sifat maupun tingkah polahnya sejak kecil. Dan baru malam itu, aku merasa bahwa dia menyembunyukan sesuatu dariku, sesuatu yang besar.
                                                   ***
    Suatu senja, dikediaman Rizky...
    Aku mengunjungi keluarga Rizky yang baru pulang dari luar kota. Tentu saja aku tidak hanya mengharapkan hadiah, tapi juga ingin segera bertemu dengan Rizky. Hampir satu pekan aku tidak melihat wajah anehnya itu. Namun ketika aku tiba disana,ternyata dia tidak sedang berada dirumah. Ayah dan ibunya bilang Rizky ada suatu urusan yang harus segera diselesaikan. Apa?urusan apa? dia tidak pernah cerita. Ini suatu kejanggalan bagiku,tidak biasantya Rizky keluar tanpa mengajakku.Aku diam. Aku akan ke Depiction Edn.
    Benar saja, aku menemukannya disana. Dia tampak sedikit pucat."Ada apa denganmu?bagaimana kabarmu?kau sakit?".tanyaku. Rizky tersenyum dan menggelengkan kepala. Lalu ia menyodorkankotak kado berwarna jingga,persis seperti gaun yang ia lukis dulu."Apa ini?".tanyaku sambil mengamati kotak itu," oleh-oleh dari  luar kota kemarin,". "Wah, thanks ya,ini yg aku tunggu.hehee,o ya? kemarin kamu dari mana?". tanyaku. "Aku keluar sebentar". jawabnya datar."keluar kemana?". tanyaku lagi."kenapa aku harus bilang padamu?".Rizky balik nanya. Aku memanyunkan bibir,merasa dianggap tidak penting. Ataukah memang seperti itu?.Kita toh hanya teman biasa. Rizky tertawa dan mengusap kepalaku dengan gemas."Kemanapun itu,percayalah itu bukan hal yang ingin kau ketahui saat ini". Katanya. Aku terpaksa harus mengubur rasa penasaranku dalam-dalam. Dan itu menyebalkan.
    Temaran lampu belajarku menyinari kado dari Rizky tadi,aku membukanya perlahan dan betapa isinya membuatku mulutku setengah terbuka.Takjub. Sepasang sepatu,putih gading,dihiasi nama dibagian high heellsnya! namaku tetu saja. Aku masih mengagumi sepatu itu dan menerka-nerka berapa harganya?apa dia khusus memesan?apa hanya kebetulan ada nama perusahaan yang mirip namaku?. Tumben dia membelikan oleh-oleh sebagus ini.
    Sebuah kertas mungil menggantung diujung sepatu,kutarik tali yang mengikatnya dan mulai membaca tulisan latin yang memenuhi kertas tersebut."MALAM INI,SEPATU, GAUN JINGGA,PUKUL 8 di DEPICTION EDN,DONT BE LATE!". Butuh waktu sepersekian menit untuk membuatku paham,makna dari pesan yang serba singkat itu.Aku terperanjat melihat jam dinding menunjukkan pukul 19.45 WIB.Segera kukenakan dress jingga yang pernah kupakai saat Rizky melukisku dulu. Memakai sepatu pemberiannya dan tentu saja menyemprotkan parfume jasmine hadiah dari pamanku 3 bulan lalu. Juga menyempatkan mengoles lipgloss di bibir keringku.
    Entah berapa lama setelah itu,aku tiba di Depiction Edn dengan nafas yang memburu. Aku mengangkat gaunku dan berlari menuju pondok kecil yang disan pasti dia sudah menunggu. Aku terengah-engah didepan pintu,tidak sempat merapikan rambutku. Rizky diam, memandangiku dengan tenang. Dia memakai setelan jas putih dengan tuksedo hitam yang memukau. Aku baru menyadari betapa atampannya dia malam ini. Seperti pangeran khayalan negeri dongeng.
    "Maaf," bisikku. Dia menghampiriku dengan tenang, tatapannya teduh."Lihat betapa indahnya dirimu malam ini." pujinya sambil menyingkap geraian rambut dipipiku. Aku masih mengatur napas,"Aku berantakan" ucapku,cemberut."Tidak,inilah keindahanmu Luna,aku suka. Kau cantik malam ini, selamat datang di surga. Yang mendekati surga sebenarnya...".Dia berteriak sambil mematikan saklar lampu,membiarkan gelap berkuasa, dan membiarkan cahaya bulan mengintip dari celah jendela,musik lembut mengalun perlahan,menggoda kami untuk bergerak kekanan dan kekiri, dengan lengannya yang sempurna melingkar di pinggangku. Kami berdansa.
    Kukalungkan lenganku pada lehernya,hening. Hanya alunan musuik klasik yang berbicara. Bahkan aku tidak tahu aku masih bisa berkata-kata atau tidak. Malam ini dia berbeda, dan aku suka. Sepersekian detik, aku melihat tatapan matanya dikegelapan, tatapan mata seorang sahabat yang sejenak meyakinkanku ada rasa lain disana. "Luna, kau diam sja? kaget ya melihatku seperti ini?". tanyanya tersenyum. Aku mkin mempererat pelukanku,tidak ingib menjaab pertanyaannya. Lalu dia berkata lagi, tepat di belakang telingaku, berbisik lirih,penuh makna," Luna, i want you, Now, Tomorrow, and forever...". Dan lagi-lagi aku hanya mempererat pelukanku," Apa benar ini Kiki yang aku kenal?".tanyaku. "kenapa?kau tidak percaya ini akau? apa aku kurang puitis kali inai?".tanyanya tersenyum lagi."Kau bergurau, ini hala yang paling manis yang pernah kita lakukan. Bahkan ini pertama kalinya kita belum bertengkar seperti biasanya." ujarku. Dia tersenyum,merengkuh wajahku dan berbisik lagi," I want you, now, tomorrow, and forever..." Aku tidak mengatakan apapun,tapi tatapanku kurasa sudah cukup mencerminkan jawabannya.
    Cahaya bulan masih menyinarti siluet kami, hingga Rizky mengangkat wajahku sampai hidung kami berdekatan,gelap, tenang, musik berhenti. Cahaya bulan semakin meredup seiring semakin hangat pelukan kami,membuat melayang, memikirkan perasaan-perasaan tidak masuk akal yang kami alami. Dia,kami aadalah sahabat. Tapi saat ini, kami lebih dari itu.
                                                   ***
    Tapi sekali lagi, itu beberapa bulan yang lalu,aku hanya seperti orang gila yang kehilangan semangat. Sudah hampir satu bulan Rizky kritis dirumah sakit. Aku baru mengetahui bahwa ia terkena kanker darah. Aku baru tahu kepergiannya yang katanya"keluar sebentar" itu sebenarnya ialah rutin berobat ke rumah sakit. Kenapa kau tidak pernah jujur,setelah selama ini persahabatan kita,setelah selama ini perasaan kita, saat kita sedekat ini. Kenapa keluargamu juga merahasiakannya dariku. Beri aku alasan, jawab aku.
    Sampai saat ini,lukisannya masih tersusun rapi di Depiction Edn, dan sudah 3 hari ini aku tidak mengunjunginya di rumah sakit. Bukan karena malas ataupun hal yang lain. Tapi karena memang ternyata dia sudah pergi, selamanya. Di Edn yang sebenarnya...
    Aku masih termenung di Depiction Edn,hanya ditempat inilah aku bisa merasakan keberadaannya, seringainya yang sinis mengejek, dan tentu saja saat ia tengah sibuk melukis di kanvasnya itu.Aku ingin bertanya, mengapa dunia begitu fana? mengapa semua seolah terpaksa berakhir ketika aku,ketika Rizky, ketika kami berdua baru merasakan arti kebersamaan kami selama ini. Kebersamaan yang indah,kebersamaan yang sayang untuk dilupakan.
    Lagi, aku masih termenung setiap malam di Depiction Edn. Diam didepan kanvas, memandangi karya terakhirnya, Sepasang kekasih tengah berdansa, masing-masing mengenakan gaun jingga dan setelan jas putih dengan tuksedo hitam yang memukau. Diterangi cahaya bulan yang mengintup di celah-celah jendela...Lagi, aku masih termenung setiap malam di Depiction Edn. Merasakan hembusan napasnya,memperhatikan kecintaannya terhadap lukisan,yang kini terbengkalai. Dalam balutan dress jingga yang sudah tiga hari ini tak kulepas sedetikpun dari tubuhku, aku mencoba menggerakkan jemariku, tanganku gemetar mengarahkan kuas ramping itu,sedikit demi sedikit aku mulai membuat sebuah bentuk. Lama kelamaan bentuk itu terlihat jelas. Dan ternyata itu hanay bulatan besar berwarna putih. Bulan. Bulan terang yang dengan sempurna memamerkan gerhananya ketika kami berdansa ditempat ini... kemarin. Rasanya baru kemarin.
    Dan lagi, aku masih termenung setiap malam seperti orang gila didepan karya terakhirnya. Sebuah lukisan yang diberi nama "Eclipse in The Depiction Edn" Sampai tiba waktunya tubuhku kurus kering dan siap untuk mengejarnya, di Edn yang sesungguhnya...
                                                      ***

Sandi Ovinia, 27 Desember 2015


You may also like

Tidak ada komentar:

Flickr Images

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Sandi Ovinia Putri

Tulisan tidak hanya berhenti di satu masa dan hanya satu kepala.
Tulisan bisa lebih kuat dari pada peluru, sebab ia mampu menembusa daya pikir kita.

Popular Posts